Awalnya hanya sebuah keisengan. Berkat tangan dingin Mark Elliot
Zuckerberg (kreaturnya), Facebook pun kemudian berkembang menjadi sebuah
usaha yang patut diperhitungkan. Kini omzetnya mencapai ratusan juta
dolar. Face book kini tengah menjadi tren
dunia. Daya pikat website ini memang begitu dahsyat. Pamornya mulai
bersinar, bahkan sejak pertama kali muncul 5 tahun lalu. Tak pelak,
popularitasnya langsung mengalahkan situs serupa yang sudah lebih dulu
ngepop layaknya Friendster dan Multiply.
Hingga akhir tahun 2007, para penggunanya sudah mencapai 60 juta org.
Tak salah, bila ComScore Inc. pun layak memposisikan facebook sebagai
salah satu situs terpopuler di dunia sepanjang 2007.
Tak hanya popularitas yang akan dinikmati Mark Elliot Zuckerberg,
pemilik sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Facebook. Dari sisi
bisnis pun, Facebook patut dibanggakan. Bagaimana tidak, atas semua
pencapaian itu, otomatis mengangkat situs ini menjadi media yang dinilai
layak untuk beriklan. Lihat saja omzet yang dipetik pengelolanya
sepanjang 2006, skalanya terbilang mencengangkan: US$ 100 juta.
Kabarnya, dari pendapatan sebesar itu, sekitar Rp. 6,6 triliun masuk ke
kantong pribadi sang pemilik. Sungguh, kekayaan yang luar biasa besar
buat ukuran seorang Mark yang saat ini baru berusia 24 tahun.
Mark, bisa dibilang, tergolong eksekutif muda yang unik. Ia begitu
mengidolakan Bill Gates. Bill bahkan banyak mempengaruhi perjalanan
hidupnya. Salah satu yang tergolong ekstrim, karena kegilaannya terhadap
komputer, Mark tak ragu memutuskan kuliahnya di Harvard University
(langkah serupa pernah dilakukan sang idola). “Karena Bill Gates-lah
yang menginspirasi saya untuk berhenti kuliah”, ujar pria yang sempat
belajar selama dua tahun di universitas itu.
Facebook sendiri, sebenarnya judul dari sebuah buku yang memuat
daftar nama seluruh mahasiswa dan dosen di Harvard. Bagi setiap warga
perguruan ini, wajib hukumnya memiliki buku itu. Dari situlah mulanya
yang mendorong Mark menggagas sebuah komunitas baru di dunia maya. Ide
awalnya, kata Mark, ia hanya ingin membuat website yang keren dan
disenangi teman-temannya.
Kala peluncuran perdananya, website ini hanya diperkenalkan di
lingkup almamater. Karena memperoleh respons yang cukup bagus, kemudian
dikembangkan agar bisa diakses oleh para siswa SMA di 30 sekolah yang
ada di sekitar New York. Di luar dugaan, responsnya lebih dahsyat. Dan
kepopulerannya terus menggema dari mulut ke mulut. Kini dalam sehari,
Facebook rata-rata dikunjungi oleh lebih dari 1 juta orang.
Ada sejumlah daya tarik yang dimiliki Facebook, sehingga begitu
digandrungi. Di antaranya, adanya aturan (tak tertulis) bagi mereka yang
ingin masuk ke komunitas ini yang dinilai berbeda dengan website serupa
lainnya. Yakni, mereka harus jujur memberikan data diri(email address).
Nah, yang melanggar, account-nya akan diblokir.
Aplikasi yang ditawarkan Facebook memang sangat mengasyikkan. Salah
satunya yang terpopuler adalah superPoke. Lewat aplikasi ini,
menariknya, para netter bisa saling serang dengan menggunakan
gambar-gambar animasi yang lucu. Website ini juga memungkinkan para
anggotanya bisa membuat kuis interaktif, polling, atau simulasi pemilu.
Situs ini juga memiliki kapasitas memori terbilang sangat besar,
sehingga setiap pekannya bisa menampung sekitar 60 juta keping foto.
Mulanya tiada yang menduga, termasuk Mark sendiri, jika Facebook bisa
berkembang menjadi sebuah usaha yang menjanjikan. Apa boleh buat,
realitas yang berkembang bicara lain. Bahkan situs ini kini layak
digolongkan sebagai wahana usaha yang patut diperhitungkan. Untuk
menjalankan bisnisnya itu, Mark juga dibantu oleh tiga teman sebayanya.
Seiring dengan perkembangan bisnisnya, kini Facebook telah menempati
gedung sendiri di kawasan Palo Alto, California, yang mampu menampung
sekitar 350 karyawan (sebagian besarnya para pemrogram profesional).
Gedung ini, uniknya, tak lain asrama mahasisiwa tempat tinggal Mark
ketika kuliah.
Di kalangan teman kulian dan dosen, sebenarnya Mark dikenal sebagai
anak cerdas kebanyakan. Bila ada yang menonjol, adalah kegilaannya
terhadap komputer. Ia juga dikenal sebagai anak bengal yang kerap
mengganggu situs resmi yang dikelola Harvard. Suatu waktu (2003) ia
pernah mengecoh kalangan civitas akademi ini dengan situs tandingan yang
dibuatnya yang berisi polling tentang siapa cewek yang pantas jadi
idola di Harvard. Ulah lainnya, ia pernah membuat database Harvard
macet, karena dibanjiri kiriman foto koleksinya. Karena perbuatannya
itu, ia diadili oleh para petinggi Harvard, dan nyaris dikelurkan dg tdk
hormat.
Sejatinya, Mark tak hanya piawai mengotak-atik program komputer. Ia
juga berbakat dalam berbisnis. Layaknya seorang CEO, ternyata Mark
memiliki kemampuan meyakinkan para mitra bisnisnya. Ketika Facebook baru
berjalan 7 bulan, antara lain, nyatanya ia mampu meyakinkan para
petinggi PayPal, perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman
uang, untuk memberinya pinjaman modal sebesar US$ 500 ribu. Tak diduga,
hanya dalam waktu 3 bulan, pinjaman itu bisa dilunasi. Pendapatan
Facebook hingga Desember 2004 pun sudah mencapai US$ 1 juta.
Setahun kemudian Mark bersama kawan-kawannya mulai menata usahanya
lebih serius lagi. Tak sia-sia, ikhtiarnya itu membuahkan hasil, berupa
pinjaman berbunga kecil dari Accel Partners sebesar US$ 12,8 juta.
Kepercayaan para mitranya pun kian bertambah. Nyatanya, tak lama setelah
itu, ada sebuah konsorsium (tiga perusahaan investasi) yang mau
memberikan dukungan dana ke Facebook sebesar US$ 25 juta.
Ketenaran Facebook terus berlanjut. Hingga tahun lalu, tak kurang
dari manajemen Yahoo pun tertarik membeli sebagian sahamnya. Hanya untuk
5% saham Facebook, mereka berani menawar US$ 1 milliar. Edannya,
peluang itu ditolak mentah-mentah oleh Mark. Secara diplomatis ia
menampik tawaran Yahoo dengan mengatakan bahwa saat itu uang baginya
bukanlah segala-galanya. Akhirnya, idealisme Mark luluh juga. Nyatanya,
ia tak menolak tawaran yang dilayangkan oleh Microsoft. Mark pun dengan
ikhlas melepas 1,6% sahamnya-senilai US$ 240 juta – buat perusahaan yang
dimiliki oleh idolanya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar